Selasa, 25 Februari 2020
PERTEMUAN YANG MEMISAHKAN DAN MENYATUKAN
Jumat, 21 Februari 2020
PAHITNYA JATUH CINTA PADAMU
PAHITNYA JATUH CINTA PADAMU
Karya: Po Tan
Aku memanggilmu, puan
Wajah merah berkilau pualam
Dengan mata berkalung mawar
Pesonamu anggun menyebar
Aku memujamu, puan
Kulit mulus sebening kaca
Menyeret pria ke lumpur dosa
Sebagai penghibur sekejap saja
Aku menantimu, puan
Saat senja menculik awan
Dan kita terbang ke atas malam
Hanya kau dan aku tanpa penghalang
Jangan ragukan ketulusanku, puan
Sebab semua telah kukorbankan
Termasuk keinginan untuk memilikimu
Hanya untuk memeluk pahit hariku
#Batam, Kepulauan Riau
022020
Sabtu, 15 Februari 2020
KEJUJURAN YANG TERSIA-SIAKAN
KEJUJURAN YANG TERSIA-SIAKAN
Karya: Po Tan
Kau bertanya padaku apakah aku mencintaimu
Kurasakan petir seketika menyambar istanaku
Tembok-tembokku runtuh pecah berkeping
Dan panas mentari membakarku hingga kering
Kukuatkan hati untuk menatap ke dalam netramu
Adalah lebih baik bagiku untuk melepas kejujuran
Yang membuatmu menangis tersedu-sedu
Daripada mengisi palungmu dengan kebohongan
Kutak keluhkan cermin jiwamu yang telah retak
Juga takkan menjejalimu dengan kata-kata bijak
Bahwa persahabatan yang tertinggi adalah bersama
Saling berbagi segalanya untuk selamanya
Kutak dapat menumbuhkan sayapmu lebih cepat
Juga tak akan menahan langkahmu dengan perekat
Sebab cinta tak datang saat diminta
Dan tak akan pergi jua saat terluka
Aku ingin memelukmu hingga berhenti nafas ini
Aku ingin terus bersamamu sampai akhir nanti
Tak hendak melepaskan kepedulianku
Meski kepedihan berganti menusukiku
Aku selalu bermimpi untuk menemanimu
Setiap kali jemari-jemari kita bersatu
Kau tak selalu memilih peran antagonis
Lebih sering tersenyum daripada menangis
Setiap malam aku merindukan nafasmu
Yang mengalir dari ujung-ujung daun
Dan menitik ke atas batu-batu
Menghancurkan egoku tanpa ampun
Kadang aku merasa hanya biasa-biasa saja
Saat kita berbicara tentang romansa
Namun setelah dirimu berjalan pergi
Anak-anak rindu menikam bagai duri
Aku merasa sangat kehilangan
Dan ketakutanku mulai menggerogoti
Menarikku ke jurang kegelapan
Yang dalamnya tak terselami
Aku ingin terus bermimpi tentang kita
Dan mendekap bayangmu untuk selamanya
Sampai gemuruh di dada ini berhenti
Sampai ketakutan ini tak berdetak lagi
#Batam, Kepulauan Riau
#020720
Selasa, 21 Januari 2020
CAHAYA MARTIR DI WAJAH PUTRA SANG IBU
CAHAYA MARTIR DI WAJAH PUTRA SANG IBU
Karya : Kakashi DSensei (Po Tan)
Pemberani
Begitulah ia disebut
Martir
Begitulah ia dipanggil
Ia seorang prajurit
Tanpa pangkat apa-apa
Ia diletakkan di barisan paling depan
Tanpa bekal apa-apa
Selain perintah dan pemahaman
Bahwa melalui dirinya
Negara bisa diselamatkan
Ia bahkan berasal dari keluarga miskin
Yang hampir tidak bisa makan apa-apa
Ia bahkan lupa kepada ibunya
Sebab ia tak pernah pulang
Untuk selama-lamanya
Siapa yang dapat memberikannya nafas buatan
Ia kehilangan nafasnya di medan pertempuran
Ia menembakkan peluru-peluru tajam
Dengan teriakan keras
Namun ia menemui maut
Tanpa berkata apa-apa
Darahnya membasahi kertas putih
Yang ditulis oleh para politisi
Darahnya menyuburkan tanah
Yang gersang oleh nafsu tuan tanah
Seisi dunia tercekam
Saat peti jenazahnya datang
Langit ikut menangis pedih
Saat ibunya membelai kepala putranya dengan airmata
Ia yang tak punya apa-apa
Kembali kehilangan satu-satunya harapan
Tak ada yang dapat menghapus airmatanya
Atau menghentikan raungannya
Martir itu
Anakku
Batam, Kepulauan Riau
012220
Senin, 30 Desember 2019
SALAM DARI SEPERTIGA MALAM
SALAM DARI SEPERTIGA MALAM
Karya : PO TAN
Salam dari sepertiga malam
Tempat bermain para petualang
Yang melompat dari satu kata ke lain kata
Dari satu hati hingga ke hati lainnya
Pun bagi para pengendara sepi
Yang berlomba memanjat rembulan
Meski maut telah menghampiri
Tak putus asa menggapai bintang
Sepertiga malam kian berdentang
Alunan musik kian bingar
Kulihat seraut hitam terlempar ke jurang
Karena tak sanggup untuk membayar
Dari kamar sebelah kiri
Sekuntum mawar digerayangi
Madunya dihisap kelopaknya terlepas
Ternoda nista minuman keras
Oh...sepertiga malam kian menggoda
Membawa amuk api di belahan dada
Tak terhitung jumlah korban yang melayang
Tak terkira banyaknya jiwa yang terbuang
#Batam, Kepulauan Riau
121930
Jumat, 25 Oktober 2019
GILA AKU GILA KAU
GILA AKU GILA KAU
Karya : Po Tan
Aku berhenti menyobek waktu selepas senja memainkan elegi di ujung rambutmu
Mata hitam dengan hidung membusung
Bidadari putih berkulit lembut gemulai
Lenggok pinggulmu membunuh itik-itik di sekitar rentang kepakmu
Tak sedikit yang berlari memburu helai-helai bulumu yang terbang tertiup angin
Tak sedikit pula yang tertabrak roda hingga mati seketika
Gila, matanya melotot namun bibirnya tertawa
Gila, cinta memang gila
Tak terhitung pejantan yang kehilangan nyawanya demi rayu pikat yang keluar dari deretan gigi putihmu
Seruput kopi belum lagi habis ketika helai bulu perindu itu jatuh ke atas mejaku, lalu berenang mulus di permukaan kopi hitamku
Jantungku berdegup keras
Haruskah aku membuang bulu itu beserta sisa air kopiku
Akalku bertempur sengit namun hatiku menang
Tak lama leherku telah menyeruput hingga tuntas tak bersisa
Ah, gila, aku benar-benar sudah gila
Telingaku berdenging dan mataku telah buta
Sebab tak kulihat lagi bulu ataupun debu di kopi itu
Hanya ada kau
Rasanya begitu manis semanis bibirmu
#Batam, Kepulauan Riau
#101920
Sabtu, 21 September 2019
SEMBUNYI DI BELANTARA
SEMBUNYI DI BELANTARA
Karya : Po Tan
Di belantara yang mana
Kita sembunyikan kata
Luka... Siksa... Hina... Pedih... Perih... Sakit... Benci...
Di balik
Gunung
Daun
Bunga
Angin
Awan
Api
Kabut
Asap
Di belantara kata yang mana
Kita sembunyikan rasa
Suka... Sayang... Cemburu... Cinta... Genit... Goda... Rindu...
Di sebalik
Kau
Dia
Mereka
Aku
Aku awan, katamu
Tapi awan rindu
Dia kabut, kata mereka
Tapi kabut luka
Dan kau
Kataku
Adalah bunga
Tapi bunga api
Indah
Tapi menghanguskan
#Batam, Kepulauan Riau
091922
Senin, 16 September 2019
SEMILIR RINDU KELUARGA AWAN
SEMILIR RINDU KELUARGA AWAN
Karya : Kakashi DSensei
Matahari baru saja beranjak
Ketika aku menghentikan langkah
Di bawah pohon, di tepi hutan
Padang rumput yang hijau dan Savana
Membuatku sejenak terkesima
Akan indahnya alam semesta
Kicauan burung, geliat dedaunan
Desah nafas hewan dan deru angin
Mengantarkan petualang ke dunia impian
Aku telah menemukannya
Sebuah tempat yang disebut perguruan awan
Yang istananya adalah kedamaian
Dan cahayanya adalah puji-pujian
Disana tidak dibolehkan ejek mengejek
Apalagi sampai menghina
Seburuk apapun sebuah karya
Adalah langkah kecil dalam belajar
Aku pernah mendengar petuah
Belajar dari kesalahan
Seperti anak kecil yang jatuh saat belajar jalan
Berikan ia semangat
Agar ia semakin rajin belajar
Dua netraku tak jemu memandang
Beraneka ragam hal yang memukau
Saat awan mendung berubah hitam
Dan embun mulai menaburkan pelangi
Di hamparan melati putih dan bunga lily
Jiwaku terpikat pada auman singa dan kicau pipit kecil
Yang memanggil topan dari istana sang bayu
Untuk sejenak membaca aksara magra
Di gemericik telaga jernih
Yang berselimutkan kesucian teratai
Dan memantulkan cahaya kecil dari lentera biru
Menghirup aroma pandan wangi
Melihat kutu daun yang berloncatan di kelopak anggrek bulan
Dimana awan jingga sedang mencandai turangga seta
Menaburkan rindu di kulit bunga sedap malam
Kini kedua netraku menutup
Berharap ini tiada berakhir
Memimpikan sekuntum edelweis di tepi jurang
Untuk mendatangkan keabadian
#Batam, 091619
Sabtu, 07 September 2019
LAYANG-LAYANG PUTUS DI TALI KEANGKUHAN
LAYANG-LAYANG PUTUS DI TALI KEANGKUHAN
Karya: Po Tan
Sekedar melihat layang-layang di angkasa
Yang begitu menawan dari masa ke masa
Sekelebat teringat apa yang kaulakukan saat
Segala mata memandangmu dari jarak dekat
Sedang engkau, hanya melenggak pergi
Memastikan setiap mata jadi ragu dan iri
Tentang keanggunan ataukah keangkuhan
Yang kelak akan menjadi sebuah penyesalan
Terlalu banyak masa terbuang sia-sia
Hanya untuk mencari apa atau siapa
Sehingga terlupa bahwa waktu telah melangkah
Menertawakanmu yang terluka perasaan gundah
Layang-layang putus tersangkut tali kesunyian
Menangisi sepi yang terpaut syair kepedihan
Begitu jua berulang dari hari ke hari
Hingga tiba waktunya untuk berhenti
Batam, 081921
TAK SEDETIKPUN MELUPAKANMU
TAK SEDETIKPUN MELUPAKANMU
Karya : Po Tan
Aku akan menjalani sisa-sisa waktu
Yang terjatuh dari serpihan detik-detik cahaya
Di balik tangkai-tangkai daun cemara malam ini
Engkau tahu,
Sejak dirimu tiada
Segala jejakmu kini merupa sajak
Yang meledak-ledak di dalam nadi dan darah
Jariku telah bersumpah
Untuk menulis roman di wajah tanah
Dan memahatnya di kulit pohon-pohon jati
Tentang seratus tahun cintaku padamu
Yang akan terus bertambah hingga seratus tahun lagi
Dan kelak,
Bila malam dan kabut mulai bercerita tentangmu
Aku akan menembangkan puisi rindu
Yang dulu pernah kita nyanyikan bersama
Dan menitipkannya pada angin
Agar engkau selalu tahu
Bahwa aku
Tak sedetikpun melupakanmu
#Batam, Kepulauan Riau
070919
Selasa, 13 Agustus 2019
DAN KATAKANLAH RINDU
DAN KATAKANLAH RINDU
Karya: Po Tan
Dan katakanlah rindu pada sepi
Untuk hiruk pikuk kakimu di dasar pagi
Sebelum Adistia mengisi separuh belangamu
Dengan tangisan dan tetesan peluh
Dan katakanlah rindu pada api
Yang membakar segala sakit hati
Saat ragamu hanyalah lakon dalam cerita wayang
Tentang kisah asmara Rahwana yang terlarang
Dan katakanlah rindu pada airmata
Yang meskipun menyakitkan sejak awalnya
Telah menyelamatkanmu dari racun Durgaloka
Menuju kemegahan cahaya Hastinapura
#Batam, Kepulauan Riau
050819
Kamus:
Adistia : matahari
Rahwana : raksasa
Durgaloka : neraka
Hastinapura : kerajaan megah dalam wayang
BERSYUKUR DI AMBANG SENJA
BERSYUKUR DI AMBANG SENJA Karya: Po Tan / Kakashi DSensei Seberat pelita memendam cahaya Kulipat senja dalam mendung di mata Beringkuk leti...
-
DERITAMU MAHKOTAMU Karya : Po Tan Ra, Untuk apa sesal pralagi kausekap Takkan menghasilkan apa-apa selain ratap Bangun dan ikutilah semili...
-
SEMBUNYI DI B ELANTARA Karya : Po Tan Di belantara yang mana Kita sembunyikan kata L...