Jati tua di puncak bukit
Terbakar habis dilalap api
Hati siapa yang takkan sakit
Melihat kekasih bermain hati
#KakashiDSensei / Potan
#Batam, Kepulauan Riau
#020521
Jati tua di puncak bukit
Terbakar habis dilalap api
Hati siapa yang takkan sakit
Melihat kekasih bermain hati
#KakashiDSensei / Potan
#Batam, Kepulauan Riau
#020521
Menanam jarak di tepi danau
Mati diinjak anak buaya
Gelak terbahak anak bangau
Melihat kera berkacamata
#Kakashi DSensei/Potan
#Batam, Kepulauan Riau
#012129
Bila hendak pergi berburu
Anak panah ditinggal jangan
Bila hendak pergi merindu
Akal sehat ditinggal jangan
#Kakashi DSensei / Potan
#Batam, Kepulauan Riau
#012125
TENTANG API DAN AIR
Karya: KakashiDSensei/Potan
Tentang air adalah rindu yang murni
Akan hidup dalam kedamaian
Yang jatuh dari awan di langit
Dan sebagiannya dari bola matamu
Tentang api adalah cinta yang tumbuh
Akan gairah dan cita-cita
Yang membakar dari percikan api
Dan sebagiannya lagi dari hatimu
Tentang kamu adalah
Air yang kucinta
Dan api yang kurindu
Campur aduk dalam inginku
Tentang aku adalah harap
Bahwa apimu dan airku
Bisa terus menerus bertemu
Walau tak mungkin bersatu
#Batam, Kepulauan Riau
010821
DERITAMU MAHKOTAMU
Karya : Po Tan
Ra,
Untuk apa sesal pralagi kausekap
Takkan menghasilkan apa-apa selain ratap
Bangun dan ikutilah semilir pagi
Nikmatilah merdunya kicauan sriti
Ra,
Usah lagi kausimpan riak dalam netra
Takkan hasilkan apa-apa selain luka
Ingatlah setiap mala slalu bermakna
Gela-gela rancari malih danuraja
Ra,
Apruwa anggok bedaya wuli
Udana udasina rumaos wanadri
Priki rumaos tirta wasundari
Duhkitawara malih pudyastuti
#Batam, Kepulauan Riau
011020
Kamus:
pralagi: masa lalu
sriti: burung sriti
netra: mata
Gela-gela rancari : kecewa, sakit hati, sedih
malih : menjadi
danuraja: mahkota raja
Apruwa: ayo mari
Anggok : lihat pandangi
Bedaya Uli : tarian padi
Udana udasina : tarik nafas bebas nafsu duniawi
rumaos : nikmati
wanadri : kesejukan hutan
Priki : disini
tirta wasundari : air bumi yang jernih
Duhkitawara : syair kepedihan
Pudyastuti : puji-pujian
PAHITNYA JATUH CINTA PADAMU
Karya: Po Tan
Aku memanggilmu, puan
Wajah merah berkilau pualam
Dengan mata berkalung mawar
Pesonamu anggun menyebar
Aku memujamu, puan
Kulit mulus sebening kaca
Menyeret pria ke lumpur dosa
Sebagai penghibur sekejap saja
Aku menantimu, puan
Saat senja menculik awan
Dan kita terbang ke atas malam
Hanya kau dan aku tanpa penghalang
Jangan ragukan ketulusanku, puan
Sebab semua telah kukorbankan
Termasuk keinginan untuk memilikimu
Hanya untuk memeluk pahit hariku
#Batam, Kepulauan Riau
022020
KEJUJURAN YANG TERSIA-SIAKAN
Karya: Po Tan
Kau bertanya padaku apakah aku mencintaimu
Kurasakan petir seketika menyambar istanaku
Tembok-tembokku runtuh pecah berkeping
Dan panas mentari membakarku hingga kering
Kukuatkan hati untuk menatap ke dalam netramu
Adalah lebih baik bagiku untuk melepas kejujuran
Yang membuatmu menangis tersedu-sedu
Daripada mengisi palungmu dengan kebohongan
Kutak keluhkan cermin jiwamu yang telah retak
Juga takkan menjejalimu dengan kata-kata bijak
Bahwa persahabatan yang tertinggi adalah bersama
Saling berbagi segalanya untuk selamanya
Kutak dapat menumbuhkan sayapmu lebih cepat
Juga tak akan menahan langkahmu dengan perekat
Sebab cinta tak datang saat diminta
Dan tak akan pergi jua saat terluka
Aku ingin memelukmu hingga berhenti nafas ini
Aku ingin terus bersamamu sampai akhir nanti
Tak hendak melepaskan kepedulianku
Meski kepedihan berganti menusukiku
Aku selalu bermimpi untuk menemanimu
Setiap kali jemari-jemari kita bersatu
Kau tak selalu memilih peran antagonis
Lebih sering tersenyum daripada menangis
Setiap malam aku merindukan nafasmu
Yang mengalir dari ujung-ujung daun
Dan menitik ke atas batu-batu
Menghancurkan egoku tanpa ampun
Kadang aku merasa hanya biasa-biasa saja
Saat kita berbicara tentang romansa
Namun setelah dirimu berjalan pergi
Anak-anak rindu menikam bagai duri
Aku merasa sangat kehilangan
Dan ketakutanku mulai menggerogoti
Menarikku ke jurang kegelapan
Yang dalamnya tak terselami
Aku ingin terus bermimpi tentang kita
Dan mendekap bayangmu untuk selamanya
Sampai gemuruh di dada ini berhenti
Sampai ketakutan ini tak berdetak lagi
#Batam, Kepulauan Riau
#020720
CAHAYA MARTIR DI WAJAH PUTRA SANG IBU
Karya : Kakashi DSensei (Po Tan)
Pemberani
Begitulah ia disebut
Martir
Begitulah ia dipanggil
Ia seorang prajurit
Tanpa pangkat apa-apa
Ia diletakkan di barisan paling depan
Tanpa bekal apa-apa
Selain perintah dan pemahaman
Bahwa melalui dirinya
Negara bisa diselamatkan
Ia bahkan berasal dari keluarga miskin
Yang hampir tidak bisa makan apa-apa
Ia bahkan lupa kepada ibunya
Sebab ia tak pernah pulang
Untuk selama-lamanya
Siapa yang dapat memberikannya nafas buatan
Ia kehilangan nafasnya di medan pertempuran
Ia menembakkan peluru-peluru tajam
Dengan teriakan keras
Namun ia menemui maut
Tanpa berkata apa-apa
Darahnya membasahi kertas putih
Yang ditulis oleh para politisi
Darahnya menyuburkan tanah
Yang gersang oleh nafsu tuan tanah
Seisi dunia tercekam
Saat peti jenazahnya datang
Langit ikut menangis pedih
Saat ibunya membelai kepala putranya dengan airmata
Ia yang tak punya apa-apa
Kembali kehilangan satu-satunya harapan
Tak ada yang dapat menghapus airmatanya
Atau menghentikan raungannya
Martir itu
Anakku
Batam, Kepulauan Riau
012220
SALAM DARI SEPERTIGA MALAM
Karya : PO TAN
Salam dari sepertiga malam
Tempat bermain para petualang
Yang melompat dari satu kata ke lain kata
Dari satu hati hingga ke hati lainnya
Pun bagi para pengendara sepi
Yang berlomba memanjat rembulan
Meski maut telah menghampiri
Tak putus asa menggapai bintang
Sepertiga malam kian berdentang
Alunan musik kian bingar
Kulihat seraut hitam terlempar ke jurang
Karena tak sanggup untuk membayar
Dari kamar sebelah kiri
Sekuntum mawar digerayangi
Madunya dihisap kelopaknya terlepas
Ternoda nista minuman keras
Oh...sepertiga malam kian menggoda
Membawa amuk api di belahan dada
Tak terhitung jumlah korban yang melayang
Tak terkira banyaknya jiwa yang terbuang
#Batam, Kepulauan Riau
121930
GILA AKU GILA KAU
Karya : Po Tan
Aku berhenti menyobek waktu selepas senja memainkan elegi di ujung rambutmu
Mata hitam dengan hidung membusung
Bidadari putih berkulit lembut gemulai
Lenggok pinggulmu membunuh itik-itik di sekitar rentang kepakmu
Tak sedikit yang berlari memburu helai-helai bulumu yang terbang tertiup angin
Tak sedikit pula yang tertabrak roda hingga mati seketika
Gila, matanya melotot namun bibirnya tertawa
Gila, cinta memang gila
Tak terhitung pejantan yang kehilangan nyawanya demi rayu pikat yang keluar dari deretan gigi putihmu
Seruput kopi belum lagi habis ketika helai bulu perindu itu jatuh ke atas mejaku, lalu berenang mulus di permukaan kopi hitamku
Jantungku berdegup keras
Haruskah aku membuang bulu itu beserta sisa air kopiku
Akalku bertempur sengit namun hatiku menang
Tak lama leherku telah menyeruput hingga tuntas tak bersisa
Ah, gila, aku benar-benar sudah gila
Telingaku berdenging dan mataku telah buta
Sebab tak kulihat lagi bulu ataupun debu di kopi itu
Hanya ada kau
Rasanya begitu manis semanis bibirmu
#Batam, Kepulauan Riau
#101920
BERSYUKUR DI AMBANG SENJA Karya: Po Tan / Kakashi DSensei Seberat pelita memendam cahaya Kulipat senja dalam mendung di mata Beringkuk leti...